Psikologi Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Untuk melaksanakan profesinya, tenaga pendidik khususnya guru sangat memerlukan aneka ragam pengetahuan dan ketrampilan keguruan yang memadai dalam arti sesuai dengan tuntutann zaman dan kemajuan sains serta teknologi. Diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan juga calon guru adalah pengetahuan psikologi pendidikan. Dengan menguasai psikologi pendidikan diharapkan calon guru dan guru profesional dapat menghadapi masalah-maslah yang timbul di lingkungan sekolah.

B. RUMUSAN MASALAH

Apa pengertian dari Psikologi Pendidikan?

C. TUJUAN

Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang arti atau pengertian dari Psikologi Pendidikan.

D. MANFAAT

Penulis berharap penulisan makalah ini dapat membahas tentang pengertian dari Psikologi Pendidikan dan dapat bermanfaat bagi kita semua.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Psikologi

Psikologi pendidikan merupakan cabang dari psikologi. Psikologi secara harfiah (Syah, 1997 / hal. 7) berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa. William James (Syah, 1997/ hal. 8) menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental. John B. Watson (Syah, 1997 / hal.8) mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme. Caplin (Syah, 1997 / hal. 8) mendefinisikan psikologi sebagai “the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment” (Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan). Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld (Sarwono dalam Syah, 1997 / hal.8) mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia. Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal.8) membatasi psiklogi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya. Syah (1997 / hal.9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia. Psikologi mengandung makna yaitu ilmu jiwa yang berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari jiwa manusia melalui gejala-gejalanya, aktivitas-aktivitasnya atau perilaku manusia.

Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan badaniah organic behavior, yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar. Sedangkan jiwa adalah daya hidup rihaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan-perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagaisuatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Makna tentang psikologi khususnya tentang objek materialnya, berkembang seirama dengan perkembungan psikologi itu sendiri. Diakui bahwa yang memiliki objek material dari psikologi ialah perilaku manusia, yaitu mulai dari perilaku yang nampak keluar (overt behavior) yang bersifat objektif dan dapat diamati sampai kepada perilaku yang tidak nampak (covert behavior). Terjadinya perbedaan pendapat diantara ahli psikologi tentang psikologi disebabkan karena adanya berbagai variasi aliran di dalam psikologi. Seiring dengan perkembangan llmu Iengetahuan dan Teknologi dan zaman, psikologi sebagai suatu disiplin ilmu juga mengalami perkembangan yang pesat dan meliputi berhagai cabang ilmu yang dapat digolong-golongkan dengan berbagai cara. Abimanyu dan La Sulo (1990/ hal 14) mengemukakan bahwa dilihat dari segi objeknya, psikologi sebagai suatu disiplin ilmu dibedakan atas psikologi umum dan psikologi khusus. Psikologi umum ialah ilmu jiwa yang mempelajari gejala jiwa manusia, aktivitas atau perilaku yang umum pada setiap manusia yang dapat diamati sedangkan psikologi khusus ialah ilmu jiwa yang mempelajari atau mengkaji jiwa untuk sekelompok manusia. tertentu misalnya dari segi perbedaan usia, maka dikelompokkan psikologi khusus menjadi beberapa bagian, yaitu ada psikologi anak, psikologi remaja, dan psikologi perkembangan, dan sebagainya). Dari segi keadaan atau latar belakang kehidupan manusia, maka psikologi khusus dikelompokkan menjadi psikologi sosial, psikologi industri, psikologi pendidikan, dan sebagainya. Dilihat dari segi aspek kejiwaan tertentu yang dikaji, maka psikologi khusus dikelompokkan menjadi psikologi belajar, psikologi kepribadian, psikologi abnormal, dan sebagainya). Psikologi dapat pula dibedakan berdasarkan tujuannya, yaitu (1) psikologi teoritis yang memiliki tujuan utama yaitu memahami secara ilmiah murni untuk menyusun suatu teori, seperti psikologi kepribadian atau teori kepribadian, psikologi belajar dengan berbagai teori belajar dan (2) psikologi praktis yang dikembangkan karena kebutuhan tertentu seperti psikologi medis, psikologi kriminil, psikologi pendidikan, dan sebagainya. Jika dilihat pembagian psikologi berdasarkan tujuannya tersebut, maka psikologi pendidikan sebagai bagian integral dari psikologi secara makro masuk ke dalam kelompok psikologi khusus dan psikologi praktis serta juga masuk ke dalam kelompok psikologi teoritis apabila penekanan pada penyusunan suatu konsep atau teori (Abimanyu dan La Sulo, 1990:15).

B. Pengertian Pendidikan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Syah, 1997 / hal.10) Pendidikan berasal dari kata “didik”, yang mendapat awal me sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut McLeod (Syah, 1997 / hal. 10) dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). .

Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.

Tardif (Syah, 1997 / hal. 10) Secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Secara luas dan representatif, pendidikan ialah the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan).

Menurut Dictionary of Psychology (Syah, 1997 / hal. 11) Pendidikan diartikan sebagai the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution. Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya.

Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya.

Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction).

Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal. 11) Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.

C. Pengertian Psikologi Pendidikan.

Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12) Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :

a. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas

b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum

c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan

d. Sosialisasi proses – proses dan interaksi proses – proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif

e. Penyenggaraan pendidikan keguruan

Barlow (Syah, 1997 / hal. 12) Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.

Tardif (Syah, 1997 / hal. 13) Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan. .

Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13) Psikologi pendidikan sebagai “ A systematic study of process and factors involved in the education of human being. Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.

Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Psikologi pendidikan sebagai bagian integral dari disiplin ilmu psikologi berupaya menggunakan konsep atau prinsip-prinsip psikologis dalam memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan. Kajian psikologi pendidikan lebih berfokus kepada kajian psikologis dalam memahami gejala-gejala psikologis peserta didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran di kelas. Sedangkan menurut The American People of Encyclopedia bahwa psikologi pendidikan ialah cabang dari psikologi yang berusaha untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologis dalam memecahkan persoalan pendidikan. Dalam perkembangan lebih lanjut, psikologi pendidikan meluas menjadi berbagai kajian dalam mengkajitentang masalah-masalah yang dialami peserta didik dalam proses pendidikan dan pembela,jaran di kelas. Berbagai kajian tersebut misalnya kajian tentang psikologi belajar, psikologi mengajar, psikologi bimbingan dan penyuluhan, dan sebagainya. Kesemua bidang kajian dari psikologi pendidikan tersebut semuanya bermuara kepada usaha penciptaan proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam proses pendidikan dan pembelajaran di kelas dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologis dalam mengetahui dan memahami gejala aktivitas jiwa dan perilaku peserta didik dalam proses belajar mengajar di kelas.

Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memilik kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :

a). Ontologis

Obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.

b). Epistemologis

Teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.

 

c). Aksiologis

Manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.

D. Kontribusi Psikologi Pendidikan

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.

1) Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.

Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.

Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya.

Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.

Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.

Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek:

(1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks

(2) pengalaman belajar siswa

(3) hasil belajar (learning outcomes)

(4) standarisasi kemampuan siswa

2) Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran

Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.

Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :

  1. Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
  2. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
  3. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
  4. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
  5. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
  6. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
  7. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
  8. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
  9. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
  10. Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
  11. Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
  12. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
  13. Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.

3) Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian

Penilaian pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.

Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya. Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.

Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.

Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.

BAB III

KESIMPULAN

 

Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Psikologi pendidikan sebagai bagian integral dari disiplin ilmu psikologi berupaya menggunakan konsep atau prinsip-prinsip psikologis dalam memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.

Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/06/makalah-dan-artikel-psikologi-pendidikan

Barlow, Daniel Lenox. 1985. Educational Psychology: The Teaching-Learning Process. Chicago: The Moody Bible Institute.

McLoad, William T (managing editor). 1989. The New Collins Dictionary and Thesaurus. Glasgow. William Collins Sons & Co Ltd.

Nasution, S., 1984. Berbagai Pendekatan Belajar dan Mengajar. Edisi pertama, jakarta: Bina Aksara.

Reber, Arthur S. 1988. The Penguin Dictionary of Psychology. Ringwood Victoria: Penguin Books Australia Ltd.

Syah, Muhibbin, 1993. “Arti Penting Aspek Kognitif  dalam Pengajaran Agama”, dalam Mimbar Studi, IAIN SGD. Bandung, No. 53/XV/1993.

Syah, Muhibbin, 1997. “Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru”, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Tardif, Richard. 1987. The penguin Macquaire Dictionary of Australian Education. Ringwood Victoria: Penguin Books Australia.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Balaia pustaka.

Witherington, H.C. 1978. Educational Psychology, terjemahan M. Buchori. Jakarta: Aksara Baru.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s